Referral Banners
Toko Buku Online Terlengkap
Tampilkan postingan dengan label Peluang Usaha Agrobisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peluang Usaha Agrobisnis. Tampilkan semua postingan

11 Januari, 2012

Teknik Budidaya Belut (Synbranchus)

Sumber Gambar: http://belutkadut.wordpress.com/

Kali ini Peluang Bisnis Syariah akan menyajikan informasi mengenai budidaya belut, belut (eel) termasuk  ikan air tawar bernilai berprotein tinggi dengan kandungan gizi yang lengkap, dan peluang usahanya cukup menjanjikan karena harganya cukup tiggi dibanding dengan ikan air tawar lainnya.  Adapun manfaat belut antara lain sebagai penambah darah, pengobatan penyakit liver, sebagai afrodisiak sehingga diyakini dapat meningkatkan gairah seksual, serta sangat bagus dikonsumsi anak anak karena dapat memperkuat tulang juga meningkatkan kecerdasan otak anak. Minyak belut  juga dapat digunakan untuk menghaluskan kulit. Berikut adalah beberapa artikel tentang teknik budidaya belut dan analisa usaha dan manfaat yang kami sadur dari berbagai sumber.

1. SEJARAH SINGKAT
            Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

2. SENTRA PERIKANAN
           Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan.

3. JENIS
             Klasifikasi belut adalah sebagai berikut:
Kelas        :  Pisces
Subkelas   : Teleostei
Ordo         :  Synbranchoidae
Famili       :  Synbranchidae
Genus       :  Synbranchus
Species     :  Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus albus Zuieuw (belut sawah);
                     Macrotema caligans Cant (belut kali/laut)
Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah.

4. MANFAAT
          Manfaat dari budidaya belut adalah:
1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3) Sebagai obat penambah darah.

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik.
    Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi.
    Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
2) Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar
     bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
3) Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
4) Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan oksigen terutama untuk
     bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut
     dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
    6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
       1) Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain:
            kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm),
            kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi
            (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk
            pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan
            belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
       2) Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran,
            kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
       3) Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm)
           daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya
           250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampung
           nya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya
           50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 3-50 cm.
      4)  Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu
           diplester.
      5) Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang
          diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
      6) Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan
           jerami  padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal
          10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun
          dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik
          selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara
          perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik + air). Dengan demikian media dasar kolam
          sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah.
          Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.

  6.2. Penyiapan Bibit
    1) Menyiapkan Bibit
        a. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara
            selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
        b. Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang
            bibit yang ada di alam.
        c. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang
            dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
        d. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor
            betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur
            ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar
            1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan
            calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempat
            kan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut ber
            ukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk
            konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.
     2)  Perlakuan dan Perawatan Bibit
           Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. 
           Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang.
           Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran
       1) Pemupukan
            Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk
            kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.
       2) Pemberian Pakan
            Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar (belatung) yang
            diberikan setiap 10 hari sekali.
       3) Pemberian Vaksinasi
       4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak
           Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan
           dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

7. HAMA DAN PENYAKIT
    7.1. Hama
       1) Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut.
       2) Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-
           berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan ikan gabus.
       3) Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan
           kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama.
    7.2. Penyakit
           Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah
           seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

8. PANEN
    Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
   1) Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
   2) Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya
       sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).

    Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain: 
    bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam  
    sehingga belut tinggal diambil saja.

9. PASCAPANEN
    Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar, penanganan pasca panen
    perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam
    kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
      10.1.Analisis Usaha Budidaya
             Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah
      sebagai berikut:

      1) Biaya Produksi
           a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000, -         Rp.   28.000,-
             b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,-                                                   Rp. 225.000,-
             c. Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-      Rp.   45.000,-       +
             d. Lain-lain Rp. 30.000,-
                                                                     Jumlah Biaya Produksi             Rp. 328.000,-

     2) Pendapatan: 3.000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,-                Rp.  750.000,-
     3) Keuntungan                                                                      Rp.  422.000,-
     4) Parameter Kelayakan Usaha                                   2,28

     10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
               Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas  (situs : http://www.ristek.go.id)


TIP BUDIDAYA BELUT DARI INDOBELUT JAYA

HAL HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN SEBELUM TERNAK BELUT

1.PAKAN AWAL
2.PAKAN LANJUTAN
3.KOLAM
4.MEDIA
5.AIR
6.TANAMAN AIR


PAKAN AWAL
Satu Minggu sebelum Belut masuk usahakan pakan awal (Cacing, Kodok Dewasa, Ikan-ikan kecil) harus dimasukan terlebih dahulu kedalam kolam untuk persiapan pakan, semakin lama Cacing, Kodok dan Ikan Kecil didalam kolam, Maka semakin baik, Karena Cacing akan berkembang, Kodok akan bertelur dan Ikan-ikan kecil akan bertambah banyak sehingga cukup sebagai pakan awal.


PAKAN LANJUTAN
Pakan ini diberikan setelah belut masuk kekolam dengan perhitungan sebagai berikut :

1. Bulan Ke-I, 5% dari berat bibit yang dimasukan , misalnya kita memasukan bibit 1 Kuintal
    maka kita memasukan 5 kg Cacing/perhari (Pakan lain sebagai tambahan)

2. Bulan Ke-II, 10% dari berat bibit misalnya kita memasukan bibit 1 Kuintal
    maka kita memasukan 10 kg Cacing/hari. (Pakan lain sebagai tambahan)

3. Bulan Ke III, 15% dari berat bibit belut misalnya kita memasukan bibit 1 Kuintal
    maka kita memasukan 15 kg Cacing/hari. (Pakan lain sebagai tambahan)

4. Bulan Ke IV, Cacing secukupnya sebagai gantinya belatung dengan perbandingan:
    Minggu Ke-I          =  5 Liter
    Minggu Ke-II        = 10 Liter
    Minggu Ke-III       = 15 Liter
    Minggu Ke-IV       = 20 Liter .

KOLAM
Ada 4 Type Kolam untuk budidaya belut :

       1.Kolam Sawah
       2.Kolam Permanen / Tembok
       3.Kolam Jaring
       4.Kolam Terpal


       Kolam Sawah
       Type ini lebih sederhana dan tidak memerlukan pembuatan media yang macam-macam, cukup material yang ada disawah.

       Caranya :
       * Sawah digali 30-40 cm
       * Pasang Jaring
       * Masukan Tanah galian tadi
       * Pinggir Jaring Dilipat Keatas, dan ditahan oleh bambu.
       * Air usahakan mengalir terus
       * Tanami dengan padi diatasnya.

       Kolam Permanen
       Kolam ini memerlukan biaya cukup besar, karena kita harus menyiapkan batu bata, semen dan pasir.
       Tapi type kolam ini bersifat tahan lama. Kita dapat memakai kolam bekas kolam ikan atau kolam bekas kolam ternak lele.

       Caranya :
       * Masukan Media
       * Isi Air
       * Tanami Tanaman Air

       Kolam Jaring
       Type ini lebih memudahkan saat panen tapi syaratnya, air harus mengalir 24 jam. Sebab jika air tidak mengalir maka
       lambat  laun air akan surut.

       Caranya :
      * Gali Tanah 50 – 70 cm
      * Masukan Jaring
      * Jaring dilipat keatas dan dijepit oleh bambu
      * Masukan Media
      * Tanami dengan tanaman air
      * masukan air (Usahakan air itu mengalir terus)

      Kolam Terpal
      Type kolam ini lebih mudah dan murah, dan mirip type kolam jaring.Cuma usahakan membuat kolam jangan seperti
      bak mandi (Keatas)Tapi digali kebawah, hal ini untuk menjaga kelembaban suhu. Setidaknya 80 % terpal masuk tanah

      Caranya :
      * Gali Tanah 50 – 70 cm
      * Masukan Terpal
      * Lipat keatas
      * Masukan media
      * Isi dengan tanaman air
      * Air masukan

MEDIA
     Ada 4 macam media yang bisa dipilih :
     1.  Tanah 100% , Type Kolam Sawah
     2.  Tanah 80% ditambah 10% gedebong pisang busuk dan ditambah 10 % Jerami.
          Type Kolam Permanen, Kolam Jaring dan Kolam Terpal.

     3. Tanah 80% ditambah 20 % gedebong pisang busuk.
         Type Kolam Permanen, Kolam Jaring dan Kolam Terpal.

     4. Batang Pisang busuk 100%
         Type Kolam Permanen, Kolam Jaring dan Kolam Terpal.

     Dari pengalaman yang sudah dilakukan bahwa keberadaan jerami diperlukan untuk memberikan warna pada belut tersebut.
AIR     Usahakan air mengalir, ada yang masuk dan ada yang keluar hal ini untuk mengeluarkan tinja dari kotoran belut,
     sebab jika tidak dibuang maka akan mengendap dan menimbulkan penyakit pada belut yang berakibat pada kematian.
      Usahakan mengalir setiap saat, jika tidak maka usahakan mengalir siang hari atau malam hari saja.

TANAMAN AIR   1. Eceng Gondog
   2. Kangkung
   3. Genjer
   4. dan lain-lain.
       Usahakan eceng gondog, sebagai tanaman air dalam budidaya belut ini disamping cepat berkembang eceng gondog ternyata
       dapat menjaga keseimbangan PH air hal in bermanfaat untuk menetralisir racun dalam air.

TATA CARA MEMASUKAN BIBIT KEDALAM KOLAM
    Dengan Type kolam permanen, Kolam Jaring dan Kolam Terpal yang menggunakan media gedebong pisang busuk 100%.
    Di asumsikan sbb :

   * Tanggal 1 Pebruari 2012
                    Gedebong Pisang dimasukan ke kolam, lalu masukan air sampai penuh kemudian diamkan selama 3 hari.

   * Tanggal 3 Pebruari 2012
                    Kuras airnya supaya getahnya hilang dan jika gedebong pisang susut maka ditambah lagi, lalu isi air lagi kemudian
                    diamkan kembali selama 3 hari.

   * Tanggal 6 Pebruari 2012
                    Kuras airnya lagi supaya getahnya tambah hilang dan jika gedebong pisang susut lagi maka ditambah lagi, lalu
                    isi air  lagi, dan kemudian diamkan kembali selama 3 hari.

   * Tanggal 9 Pebruari 2012
                   Kuras airnya lagi supaya getahnya benar-benar hilang, selanjutnya isi kolam dengan air bersih, kemudian masukan
                   eceng gondok tahap akhir baru masukan bibit belut. Sejak bibit masuk usahakan sirkulasi air lancar



Sumber: http://belutkadut.wordpress.com/
Untuk Pelatihan INDO BELUT JAYA 
Kontak Person: Cahya Mulyadi Hp. 0859 2162 5123, 0813 9569 4282.
Alamat Kolam Budidaya : BALAI BENIH IKAN AIR TAWAR KOTA CIREBON,   Jl. Kalitanjung Harjamukti Cirebon
Alamat Domisili               : Jl. Kandang Perahu Gg. Mesjid Almunawaroh Sicalung RT.03/02 Karyamulya Cirebon






Baca selengkapnya..

07 Januari, 2012

PEMELIHARAAN IKAN DENGAN SISTEM MINA PADI

Salah satu optimalisasi potensi lahan sawah irigasi dan peningkatan pendapatan petani adalah dengan merekayasa lahan dengan teknologi tepat guna. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengubah strategi pertanian dari sistem monokultur ke sistem diversifikasi pertanian, misalnya menerapkan teknologi budidaya Mina Padi. Dengan adanya pemeliharaan ikan di persawahan selain dapat meningkatkan keragaan hasil pertanian dan pendapatan petani juga dapat meningkatkan kesuburan tanah dan air juga dapat mengurangi hama penyakit pada tanaman padi.
Sistem usaha tani minapadi telah dikembangkan di Indonesia sejak satu abad yang lalu (Ardiwinata, 1987). Selain menyediakan pangan sumber karbohidrat, sistem ini juga menyediakan protein sehingga cukup baik untuk meningkatkan mutu makanan penduduk di pedesaan (Syamsiah et all. 1988).Dengan teknologi yang tepat, minapadi dapat memberi pendapatan yang cukup tinggi. Keuntungan yang didapat dari usahatani minapadi berupa peningkatan produksi padi dan ikan, mengurangi penggunaan pestisida, pupuk anorganik, penyiangan dan pengolahan tanah (Suriapermana, et all., 1994)

Tujuan sistim mina padi adalah untuk 1) Mendukung peningkatan produksivitas lahan; 2) Meningkatan pendapatan petani; 3) Meningkatan kualitas makanan bagi penduduk pedesaan.
            
Adapun persyaratannya :
1) Petakan sawah mempunyai pematang keliling yang kuat, dapat menahan air     dan tidak bocor.  
    Lebar pematang   30-50 cm dan tingginya 40-50 cm.
2) Saluran pemasukan dan pengeluaran dilengkapidengan saringan (kawat,bambu dan lainnya).
3) Bentuk parit atau kemalir dan lebarnya disesuaikan dengan luas petakan sawah, yaitu 2-3 %. 
    Dalam kemalir adalah 20-30 cm. Berbagai bentuk kemalir adalah sebagai berikut:















  
                           Gambar bentuk kamalir

1. Pemilihan Benih
 a. Benih padi
  • Varietas : Ciherang sesuai dengan kebutuhan benih (25 kg/ha)
  •  Umur bibit 15-21 hari
  •  sistem tanam jajar Legowo 2:1
 b. Benih ikan
  •  Kriteria: ikan yang memiliki pertumbuhan cepat, disukai konsumen, nilai ekonominya tinggi, tahan terhadap perubahan lingkungan dan diutamakan yang tidak berwarna cerah untuk menghindari serangan hama terutama hama burung.
  •  Jenis ikan : Nila (ukuran 5-8 cm) dan Bawal (ukuran 2 inchi).
2. Persemaian
  •  Persemaian seluas 5% luas lahan yang akan ditanami.
  • Tanah diolah sempurna, diratakan, bersih dari rumput
  •  Dibuat bedengan-bedengan selebar 2-4 m.
  •  Pemeliharaan persemaian seperti pada cara tanam padi biasa.
  •  Umur persemaian 15-21 hari.
3. Persiapan Lahan
 a. pembersihan lahan dari gulma dan sisa-sisa tanaman
 b. Pengolahan tanah
  •  Tanah diolah sempurna (2 kali bajak dan 2 kali garu), dengan kedalaman olah 15-20 cm
  •  Bersamaan dengan pengolahan tanah dilaksanakan perbaikan pintu pemasukan/ pengeluaran dan perbaikan pematang, jangan sampai bocor.
 c. Pembuatan caren
  • Caren berfungsi sebagai tempat pelindungan ikan pada saat aplikasi pupuk atau pengendalian hama penyakit.
  • Pembuatan caren palang dan melintang pada saat pengolahan tanah terakhir, lebar 1 m dengan kedalaman 30 cm.
  • Pada titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1x1 m dengan kedalaman 30 cm.
  • Pada setiap pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasang saringan kawat dan slat pengatur tinggi permukaan air menggunakan bambu.
4. Penanaman padi
  •  Cara tanam adalah jajar legowo 2:1. (setiap dua barisan tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, tetapi jarak dalam barisan lebih rapat yaitu 10 cm) Untuk mengatur jarak tanam, digunakan caplak ukuran mata 20 cm. Pada jajar legowo 2:1 dicaplak kearah memanjang saja.
  • Penanaman padi dilaksanakan pada saat bibit berumur 17 hari.
  •  Setiap rumpun terdiri dari 2-3 batang.
5. Penebaran benih ikan
  •  Waktu : tanaman padi berumur 10-15 HST (setelah penyiangan pertama dan pemupukan dasar) pada sore atau pagi hari.
  •  Jumlah benih ikan : 4300 ekor, terdiri dari benih Nila 2700 ekor dan Bawal 1600 ekor (Padat tebar ikan 5-10 ekor/m2 )

6. Pengaturan air
  • Pengaturan air macak-macak dilakukan pada saat tanam sampai 3-4 HST.
  • Tinggi air cukup 3-5 cm dari permukaan tanah.
  • Pengaturan air macak-macak juga dilakukan pada saat aplikasi pupuk dasar dan susulan.  Pintu pemasukan dan pengeluaran air pada saat aplikasi pupuk supaya ditutup agar pupuk tidak hanyut terbawa air.
  • Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dan pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti pertumbuhan tanaman.
  • Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang saringan dari kawat atau anyaman bambu untuk mencegah keluarnya ikan yang dipelihara dan mencegah ikan liar masuk ke dalam petakan.
  • Pada pintu pengeluaran air perlu dipasang pelimpasan air untuk menahan air sesuai dengan kebutuhan dan membuang air yang berlebihan pada saat terjadi hujan.
7. Pemupukan 
a) Pemupukan Dasar
  •  Pupuk kandang/kotoran ayam : 1-2 t/ha sebagai pupuk dasar diberikan sesudah pengolahan tanah.
  •  Pemupukan N (Urea) dengan bagan warna daun (BWD). Takaran pupuk : berdasarkan rekomendasi pupuk setempat.
  •  Takaran pupuk P dan K : berdasarkan kadar atau status hara P dan K tanah. Untuk tanah dengan kandungan P rendah, takaran pupuk : 125 kg SP-36/ha. Untuk tanah dengan status P tinggi takaran pupuk : 50 kg/ha. Pupuk P diberikan pada saat tanam atau paling lambat pada umur 3 minggu.
  •  Pupuk K hanya diperlukan pada tanah yang mengandung hara K rendah yang diberikan sekaligus pada saat tanam bersamaan dengan pemberian pupuk Urea dan SP-36 sebagai pupuk dasar atau paling lambat pada umur 40 hari atau menjelang fase primordia.
b) Pemupukan Susulan
          Pupuk susulan berupa 50 kg/ha Urea, diberikan 2 minggu kemudian dengan cara ditebar .
8. Penyiangan gulma
    Penyiangan dilakukan pada umur 10-15 HST dan selanjutnya tergantung keadaan gulma.
9. Pemeliharaan ikan (pemberian pakan, pengelolaan air dan pengawasan hama)
  • Pemberian pakan : setelah 3 hari ikan di petakan sawah,
  •  Jenis pakan : pakan apung dengan kadar protein 28-32%,
  •  Cara pemberian pakan : ad libitum (pemberian pakan dihentikan setelah ikan berkurang nafsu makannya).
  • Periode pemberian pakan : 2 kali sehari (pagi dan sore hari)
  •  Setelah ikan berumur 2-3 minggu, pupuk kandang kembali diberikan dengan cara ditebar. Dosis 0,25 kg/m2.
  •  Pakan komersial yang digunakan sebanyak 500 kg
10.  Pengendalian hama dan penyakit
  •  Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan sistem periodik.
  • Pestisida digunakan seminimal mungkin.
  •  Ikan yang dipelihara merupakan predator bagi serangga hama padi, sehingga serangan hama dapat terkendali dengan baik.

11. Panen
  • Saat panen yang paling tepat adalah ketika 90% gabah menguning.
Panen ikan dilakukan 10 hari sebelum panen padi dengan cara mengeringkan petakan sawah terlebih dahulu kemudian ikan ditangkap secara perlahan-lahan.

12. Analisa Usaha 
   - PENANAMAN IKAN     a. Jenis ikan yang paling umum dipelihara adalah ikan mas.
     b. Penebaran ikan dilakukan lebih kurang 4 hari setelah penanaman padi.
     c. Padat penebaran ikan adalah :
        - ukuran (2-3) cm sebanyak 2-3 ekor/m2,
        - ukuran (3-5) cm sebanyak 1-2 ekor/m2.
     d. Pemberian makanan tambahan dapat berupa dedak sebanyak 2-4 kg/ha/hari.


   - PRODUKSI
     Produksi ikan yang dapat dicapai setelah 30-40 hari pada masa pemeliharaan adalah:
     1) Benih (2-3) cm dengan derajat kelangsungan hidup (RS) 50-65 % ukuran yang dicapai (3-5) cm.
     2) Benih (3-5) cm, SR nya 60-70 % dan ukuran yang dicapai (5-8) cm.


     HASIL PENANAMAN IKAN
     Keuntungan yang diperoleh berasal dari penanaman padi dan juga dari penanaman ikan. Keuntungan yang 

     dilakukansatu kali musim tanam padi per ha adalah sebagai berikut:
     1) Biaya pengeluaran
         a. Benih ikan 6 pinggan @ Rp. 4000,-              Rp.  24.000,-
         b. Pakan dedak 100 kg @ Rp. 125,-                 Rp.  12.500,-
            Jumlah                                                        Rp.  36.500,-
      2)   Pendapatan
            Produksi ikan 70 kg @ Rp. Rp. 2000,-          Rp. 140.000,-
      3) Keuntungan bersih                                        Rp. 103.500,-
         Keterangan:
         1 pinggan    = 3000 ekor
         1 kg            = 166 ekor (ukuran (3-5) cm dengan SR 65 %.


SUMBER
www.http://jambi.litbang.deptan.go.id/   TAHUN 2009
Brosur Pemeliharaan Ikan dengan Sistem Mina Padi, Departemen Pertanian,Direktorat Jenderal Perikanan, Balai Budidaya Air Tawar, Sukabumi- Indonesia,1995

Baca selengkapnya..

Recent Comments

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Template by : Kendhin x-template.blogspot.com